
KONSEP
DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING BELAJAR
Paper
Paper
ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Bimbingan dan Konseling Belajar
oleh
Suharni
1301413064
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
A. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling Belajar
Bimbingan sebagai pendidikan
dan pengembangan yang menekankan proses belaar yang sistematik (Mathewson,
1996), sementara Bimo Walgito mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan
pertolongan yang diberikan kepada individu atas sekumpulan individu dalam
menghadapi, menghindari atatu mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar
individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.
Chiskolm dan McDaniel, dalam
Prayitno dan Eman Amti (1994: 94) mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam
rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi
tentang dirinya sendiri.
Secara lebih jelasnya
Bimbingan adalah “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara
berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah
mendapat latihan khusus. Untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat mehamami
dirinya, lingkungannya serta dapat memehami
dirinya, lingkungannya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan
diri dengan lingkungan serta dapat mengembangkan potensinya secara optimal
untuk kesejahteraan dirinya dan masyarakat.
Mc.Daniel, 1956 menjelaskan
bahwa konseling ialah suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan
pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara
efektif dengan dirinya sendiri dan
lingkungan.
Belajar menurut Winkle ialah
suatu perubahan aktivitas psikis atau mental yang berlangsung dalam interaksi.
Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang
belajar baik actual maupun potensial.
Menurut Ernest R.Hilgard
dalam (Sumardi Suryabrata, 1984: 252) Belajar merupakan proses perbuatan yang
dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaanya
berbeda dari perbuatan yang ditimbulkan lainnya.
Jadi dalam beberapa pendapat
di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Bimbingan Konseling Belajar adalah
proses pemberian bantuan yang dilakuan secara face to face maupun melalui media
tertentu oleh konselor yang bertujuan agar siswa didik memiliki sikap dan
kebiasaan belajar yang positif, memiliki motivasi yang tinggi untuk
belajar sepanjang hayat, mempunyai
keterampilan belajar yang efektif, memiliki keterampilan untuk menetapkan
tujuan dan perecanaan belajar dan pendidikan.
Sedangkan menurut Winkle
(1997:140) bimbingan akademik ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar
yang tepat, dalam program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang
timbul berkaitan dengan tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan.
A. Ruang
Lingkup Bimbingan dan Konseling Belajar
Bimbingan dan konseling
belajar mempunyai 4 ruang lingkup yang di dalamnya perlu mempunyai pembahasan
yang mendalam. Ke 4 ruang lingkup itu ialah:
1. Perkembangan pribadi dan penyesuaian diri dalam
pembelajaran
·
Berkaitan
deengan pemahaman tentang kemampuan diri
·
Aktualisasi
terhadap kemampuan dan potensi minat diri sendiri
·
Menghilangakan
sikap yang kurang baik dalam belajar
·
Mengarahkan diri
secara efektif dan efisien dalam belajar
2. Kemampuan dalam pendidikan dan penjurusan
·
Memilih studi
lanjut sesuai kemampuan
·
Memilih studi
lanjut sesuai dengan minat
·
Memilih studi
lanjut sesuai dengan kondisi
3. Perkembangan dalam belajar
·
Informasi
mengenai kesuksesan belajar
·
Informasi
mengenal belajar efisien
·
Informasi
mengenai faktor pendukung dan penghambat dalam belajar
·
Informasi
mengeni hambatan dalam belajar
4. Penelitian yang berkaitan dengan belajar siswa
·
Melakukan
penelitian terhadap siswa di sekolah yang bekaitan dengan banyak variable
(prestasi, motivasi, masalah, dan cara penyelesaiannya)
·
Peningkatan
pembelajaran dengan berbagai metode
B. Manfaat
Bimbingan dan Konseling Belajar
A. Manfaat bagi Siswa
1. Tersedianya kondisi
belajar yang nyaman dan kondusif yang memungkinkan
siswa dapat mengembangan kemampuan
potensinya secara optimal
2. Terperhatkannya karakteristik pribadi siswa
secara utuh yang akan menjadi dasar bagi yang bersangkutan untuk menempatkan
dirinya secara tepat
3. Dapat mereduksi dan mengatasi kemugkinan
terjadinya kesulitan belajar yang pada gilirannya dapat meningatkan keberhasilan
belajar
B. Manfat bagi Guru atau Guru BK
1. Membantu untuk lebih
mampu menyesuaikan materi pembelajaran dengan keadaan siswa secara perorangan
maupun kelompok
2. Memudahkan guru bk dalam
memahami karakteristik siswanya sebagai dasar untuk membantu pengembangan
potensi mereka bahkan sampai pada posisi penentuan bantuan kepada mereka
C. Tujuan
Bimbingan dan Konseling Belajar
Bimbingan Konseling Belajar
sebagai salah satu bidang dalam pelayanan BK, memiliki beberapa tujuan
diantaranya:
a.
Mencarikan
cara-cara belajar mempelajari sesuatu dan menggunakan buku pelajaran
b.
Menunjukkan
cara-cara belajar yang efektif dan efisiensi bagi seseoranganak atau sekelompok
anak
c.
Memberikan
informasi (saran dan petunjuk) bagaimana memanfaatkan perpustakaan
d.
Membuat tugas
sekolah dan mempersiapkan diri dalam ujian dan ulangan
e.
Memilih suatu
bidang studi (mayor atau minor) sesuai bakat, minat, kecerdasan, cita-cita, dan
kondisi fisik atatu kesehatannya
f.
Menunjukkan
cara-cara menghadapi kesulitan dalam bidang studi tertentu
g.
Menentukan
pembagian waktu dan perencanaan jadwal belajarnya
h.
Memilih pelajarn
tambahan baik yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun untuk
pengembangan bakat dan kariernya di masa depan
D. Prinsip-Prinsip
Bimbingan dan Konseling Belajar
Beberapa prinsip belajar
lama yang berasal dari teori dan penelitian tetang belajar masih relevan dengan
beberapa prnsip lain yang dikembangkan oleh Gayne. Beberapa prinsip yang
dimaksud:
1.
Keterdekatan
Menyatakan bahwa situasi stimulus hendak direspon oleh
pembelajar harus disampaikan sedekat mungkin waktunya dan respon yang diingikan
2.
Pengulangan
Situasi stimulus dan responnya perlu diulang-ulang,
atau dipraktekkan agar belajar dapat diperbaiki dan meningkatkan potensi
belajar
3.
Penguatan
Prinsip ini menyatakan bahwa belajar sesuatu yang baru
akan diperkuat. Apabila belajar lalu diikuti oleh perolehan yang menyenangkan.
Dengan kata lain pembelajar akan kuat motivasinya untuk mempelajari sesuatu
yang baru apabila hasil belajar yang telah dicapai memperoleh penguatan.
Selain itu, Gayne juga mengusulkan 3 prinsip lain
yakni:
1. Informasi Faktual
Melalui 3 cara:
a. dikomuikasikan kepada
pembelajaran
b. dipelajari oleh
pembealajar sebelum memulai pembelajaran yang baru
c. dilacak
dari memori karena informasi telah dipelajari dan disimpan dalam memori
berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lalu
2. Kemahiran Intelektual
Pembelajaran harus mempuyai berbagai cara dalam
mengerjakan sesuatu terutama yang berkaitan dengan symbol-simbol, bahasa-bahasa
lainnya, untuk mempelajari hal-hal baru
Perlu diketahui bahwa kemahiran inelktual tidak dapat
disajikan melalui petunjuk lisan atau tertulis yang disampaikan pendidik
3. Strategi
Setiap aktifitas belajar memerlukan pengaktifan
strategi belajar dan mengingat. Pembelajarn harus mampu mengguanakan straregi
untuk menghadirkan stimulus yang kompleks, memilih dan membuat kode
bagian-bagian stimulus, memecahkan masalah dan melacak kembali informasi yang
telah dipelajari
4. Keterlibatan Langsung atau Berpengalaman
Siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi
ia harus menghayati, terlibat langung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab
terhadap hasilnya
5. Keaktifan
Belajar tidak boleh dipaksakan oleh orang lain dan
juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Dalam setiap proses belajar
siswa selalu menampakkan keaktifan.
6. Perhatian dan Motivasi
7. Perbedaan Individual
8. Tantangan
E. Asas-Asas
Bimbingan Konseling Belajar
1. Persamaan
Semua manusia itu berasal dari tanahdan akan kembali
ke tanah.dari Allah dan akan kembali ke Allah, yang membedakan ialah taqwa kita
masing-masing. Ada kelebihan, syukuri dan memanfaatkan, adakekuangan, sabar dan
maafkan.
2. Partisipatif
Proses pembelajaran lebih efektif dengan partisipasi
nyata, proaktif, bukan saling menuntut, menunggu, apalagi menyalahkan yang
bekerja. Partisipasi menyegarkan komunikasi dan sangatberpengaruh dalam belajar
dan pembelajaran.
3. Spontanitas
Spontanitas itu hasil dari latihan panjang. Melatih
diri dengan kebaikan, sehingga kebaikan mucul secara tiba-tiba. Tanpa piker
panjang dan mendarah daging menjadi kepribadian.
4. Apersepsi
Guru menghubungkan materi yang akan dipelajari dengan
materi yang sudah dipelajari.
5. Motivasi
Daya pendukung siswa untuk melakukan kegiatan,
fungsinya untuk mendorong siswa tetap semangat.
6. Aktivitas
Prinsip dasar pembelajaran dimana guru memberikan
kesemptan seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar. Fungsinya untuk
mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar
7. Individualitas
Diamana guru dapat membedakan individu baik fisik,
mental, maupun status sosial agar kegiatan KBM efektif, lancer, dan nyaman.
8. Peragaan
Guru memperagakan tugas gerak yang akan diajarkan,
sehingga menjadi komunikasi anatara guru dan siswa
9. Modifikasi
Guru melakukan perubahan, baik terhadap alat,
peraturan, suapaya pembelajaran yang susah menjadi mudah
10. Pengulangan
Memerlukan pengulangan karena semakin sulit materi
maka harus sering diulang
11. Evaluasi
Proses untuk melihat seberapa tingkat kemajuan belajar
siswa setelah prose belajar mengajar dilakukan
F. Unsur-Unsur
pada Program Bimbingan Belajar
Bidang pendidikan sekolah dewasa ini syarat permasalahan, yang tidak
sedikit di antaranya menyangkutcara atau usaha belajar siswa. Tenaga bimbingan
yang bertugas di institusi pendidikan formal harus mengetahui segala
permasalahan yang menyangkut pendidikan sekolah dan seluk beluk pendidikan
psikis yang disebut belajar. Pelayanan bimbingan akademik untuk sbagian besar
disalurkan melalui kegiatan bimbingan kelompok, bik di pendidikan jenjang
menengah maupun pendidikan tinggi. Untuk sebagian kecil di salurkan melalui
bimbigan individual, terutama dlam wawancara konseling. Suatu program bimbingan
di bidang beajar akademik akan memuat unsur-unsur sebagai berikut :
1. Orentasi kepada siswa dan mahasiswa baru tentang
tujuan institusional, isi kurikulum pengajaran, struktur organisasi sekolah,
prosedur belar yang tepat, dan penyesuaian diridengan corak pendidikan di
sekolah bersangutan.
2. Penyadaran kembali secara berkala tentang cara
belajaryang tepat seama mengikuti pelajaran di sekolahdan selama belajar di
rumah, secara individual mauun secara kelompok. Memang, bila siswa dan
mahasiswa tahu akan belajar yang tepat, itu belum menjamin pelaksanaannya.
Namun, tampa di ingat-ingatkan banyak pelajar dan mahasiswa mudah terbawa
hanyut oleh suasana kehidupan yang kurang menguntngkan bagi belajar secara
disiplin.
3. Bantuan dalam hal memilih program studi yang sesuai,
memilih beraneka kegiatan nonakademik yang menunjang usaha beajar, dan memilih
program studi lanjutan di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Semua pilihan
ini kerap berkaitan erat dengan perencanaan karier dimasa depan. Bantuan ini
mencangkup pula penyebaran informasi tentang variasi program studi yang
tersedia, misalnya di jenjang pendidikan tinggi.
4. Pengumpulan data tentang siswa mengenai kemampuan
intelektual, bakat khusus, arah minat, serta cita-cita hidup dan pengumpulan
data tentang program studidi perguruan tinggi yang tersedia dalam bentuk
brosur, buku pedoman baru, kliping, iklan disurat kabar, dan sebagainya.
Khususnya tentang bimbingan di SMU harus mengumpulkan data sebanyak mungkin dan
sekonkret mungkin tentang perguruan tinggi, terlebih-lebih yang terletak di
rayon yang sama dengan SMU bersangkutan, seperti jenuhnya jurusan atau program
studi tertentu, status institusiperguruan tinggi swasta (sejauh masih relevan
sebelum tahun 1997) mendapat akreditasi (sesudah tahun 1997), mahal murahnya
tes seleksi masuk, serta data yang lain yang tidak tertulis. Data yang terkumpul
ini akan sangat di butuhkan dalam memberikan bantuan kepada peserta didik,
sebagaimana dimaksudkan dalam no.3 diatas.
5. Bantuan dalam hal mengatasi beraneka ragam kesulitan
belajar, sepert kurangmampu menyusun dan mentaati jadwal beajar di rumah, kurang
siap menghadapi ujian dan ulngan, kurang dapat berkosentrasi, kurang menguasai
cara belajar yang tepat di berbagai bidang studi, menghadapin keadaan di rumah
yang mempersulit belajar secara rutin, dan sebagainya. Maka tenaga bimbingan
harus mempunyai pengetahuan yang luas, tentang seluk beluk belajar , termasuk
pemahaman psikolois.
6. Bantuan dalam hal membentuk brbagai kelompo belajar
(kelompok tentir) dan mengatur seluruh kegiatan belajar kelompok, supaya
berjalan efisien dan efektif.
Daftar Pustaka
Prayitno, Erman Amti. 1994.
Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta
Syamsu, Yusuf. 2009. Program
Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Rizki Press
Rifa’I RC, Achmad, Catharina
Tri Anni. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS
Winkel, W.S. 1997. Bimbingan
dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia








0 komentar:
Posting Komentar
silahkan komentar dengan bahasa yang sopan. you all is the best